Momentum Hari Santri dan Sumpah Pemuda, Fatayat NU KBB Ajak Kader Rawat Tradisi dan Cegah Kekerasan di Pesantren

Breaking News

Momentum Hari Santri dan Sumpah Pemuda, Fatayat NU KBB Ajak Kader Rawat Tradisi dan Cegah Kekerasan di Pesantren

 

BANDUNG BARAT – Momentum peringatan Hari Santri Nasional dan Hari Sumpah Pemuda menjadi ruang refleksi bagi kader Nahdlatul Ulama untuk memperkuat komitmen keagamaan, kebangsaan, dan pengabdian kepada masyarakat. Semangat tersebut tercermin dalam kegiatan Safari Syahriyah MT Fatimah Zahra yang diselenggarakan pada Sabtu (31/10/2026) di Pondok Pesantren Al-Fallah, Sukawening, Desa Jati, Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat.

Kegiatan yang diikuti sekitar 255 peserta ini mengusung tema peringatan Hari Santri dan Sumpah Pemuda. Acara tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus penguatan nilai-nilai perjuangan santri dan semangat persatuan generasi muda dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PAC Muslimat NU Kecamatan Saguling, Siti Rohmah; perwakilan MWC NU Kecamatan Saguling, Ustaz M. Rohman Ismail; Kepala Desa Jati, H. Unang Mahaludin, S.Pd., M.M.; Camat Saguling, Bambang Wijanarko Ischan, S.STP., M.Si.; Ketua GP Ansor Kecamatan Saguling, Ustaz Subhan; serta Rois Syuriyah MWC NU Kecamatan Saguling, KH. Iyan Sopiyan.

Turut hadir Pembina PC Fatayat NU Kabupaten Bandung Barat, Hj. Iis Masruroh, S.Ag., M.M.; Ketua Forum Pondok Pesantren (FPP) KBB, KH. Hilman Farid yang sekaligus sebagai Wakil Rois Syuriyah PCNU KBB ,  Kasi Pakis Kemenag KBB sekaligus wakil Rois Syuriah PCNU KBB , KH. Badrul Munir; perwakilan MUI Desa Jati, I. Suryana; Ketua PAC PKB Kecamatan Saguling, Ustaz Samsudin; Bendahara Yayasan Al-Fallah, Asep Gunawan, S.Pd.; serta Ketua FSGN Kecamatan Saguling, KH. Edi Supriyatna, S.Pd.I., Gr. Kehadiran para tokoh tersebut menunjukkan dukungan dan sinergi berbagai unsur dalam menguatkan kehidupan keagamaan dan kemasyarakatan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan Maulid Al-Barzanji dan Mahalul Qiyam, dilanjutkan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur'an, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, tawasul, serta sambutan-sambutan. Suasana religius dan penuh kekhidmatan mewarnai jalannya kegiatan.

Dalam sambutannya, salah satu narasumber menegaskan bahwa santri memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah bangsa. Santri bukan sekadar bagian dari lembaga pendidikan keagamaan, melainkan juga menjadi bagian dari cikal bakal perjuangan kemerdekaan dan pencetak sejarah bangsa Indonesia.

Nilai perjuangan santri tersebut dinilai perlu terus diwariskan kepada generasi muda, termasuk kader Fatayat NU, agar semangat cinta tanah air, keikhlasan berjuang, dan tanggung jawab sosial tetap tumbuh dalam kehidupan bermasyarakat.

Selain membahas semangat kebangsaan, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mengenalkan kembali sejarah dan peran Fatayat NU, khususnya perjalanan organisasi di Kabupaten Bandung Barat. Fatayat NU sebagai organisasi pemudi Nahdlatul Ulama memiliki posisi strategis dalam mengembangkan potensi perempuan usia produktif melalui kaderisasi, pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, kader Fatayat NU juga diingatkan mengenai pentingnya mengikuti Latihan Kader Dasar (LKD). Kegiatan kaderisasi ini menjadi salah satu ikhtiar untuk membentuk anggota yang memahami identitas, nilai, tujuan, serta tanggung jawab sebagai kader Fatayat NU. Dengan mengikuti LKD, anggota diharapkan tidak hanya tercatat sebagai bagian dari organisasi, tetapi juga mampu menghayati nilai-nilai perjuangan dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu agenda penting dalam kegiatan ini adalah *Deklarasi Pesantren Aman dan Bebas dari Segala Bentuk Kekerasan* yang dilaksanakan oleh PC Fatayat NU Kabupaten Bandung Barat bersama Forum Pondok Pesantren (FPP), Kementerian Agama, dan badan otonom NU se-Kabupaten Bandung Barat.

Deklarasi tersebut menjadi bentuk komitmen bersama dalam mendorong terciptanya lingkungan pesantren yang aman, ramah, dan bermartabat, sekaligus memperkuat kesadaran kolektif tentang pentingnya pencegahan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan keagamaan. Pesantren diharapkan menjadi ruang pendidikan yang tidak hanya menanamkan ilmu dan akhlak, tetapi juga menjunjung tinggi perlindungan serta penghormatan terhadap martabat setiap santri.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan mauidzah hasanah dari Fordaf Fatayat PAC Saguling dan KH. Edi Supriyatna, S.Pd.I., Gr. Nasihat keagamaan yang disampaikan menjadi pengingat bagi seluruh peserta untuk senantiasa menjaga semangat berkhidmah, memperkuat persaudaraan, serta mengambil peran nyata dalam kehidupan organisasi dan masyarakat.

Sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi dan dukungan terhadap perjuangan organisasi serta kehidupan keagamaan, panitia juga memberikan penghargaan kepada sejumlah tokoh terkait.

Suasana semakin meriah melalui penampilan grup kasidah PAC Fatayat NU Kecamatan Saguling yang turut memeriahkan kegiatan. Acara ditutup dengan doa bersama sebagai ungkapan syukur sekaligus harapan agar silaturahmi dan perjuangan para kader senantiasa mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.

Melalui Safari Syahriyah PC Fatayat NU KBB bersama MT Fatimah Zahra ini, Fatayat NU tidak hanya memperkuat tradisi keagamaan melalui kegiatan rutin organisasi, tetapi juga menghadirkan ruang konsolidasi kader, penguatan wawasan kebangsaan, serta gerakan perlindungan perempuan dan anak.

Semangat Hari Santri dan Sumpah Pemuda diharapkan menjadi energi bagi kader Fatayat NU untuk terus berkhidmah, menjaga tradisi, merawat persatuan, dan mengambil peran dalam membangun masyarakat yang religius, berdaya, serta bebas dari segala bentuk kekerasan.

Kontributor: Media Fatayat NU KBB

© Copyright 2022 - NU KBB Online