BOLEHKAH MEMAKAN DAGING KURBAN NAZAR?

Breaking News

BOLEHKAH MEMAKAN DAGING KURBAN NAZAR?

 


Penulis: Kiai Jenal (Ketua LBMNU KBB)

Masalah ini tidak terlepas dari ikhtilaf (perbedaan pendapat ulama). Sebagian ulama mengharamkan memakan daging kurban nazar karena memandang bahwa kurban nazar merupakan tanggungan yang sudah tetap (wajib), sehingga disamakan dengan dam jabrānāt (denda untuk menutupi kekurangan dalam ibadah haji). Oleh karena itu, haram bagi orang yang berkurban (mudhahhi) dan keluarga yang menjadi tanggungan nafkahnya untuk memakan daging kurban nazar.

Apabila mereka memakannya, maka wajib mengganti daging sesuai kadar yang dimakan, kemudian menyedekahkannya kepada fakir miskin. Dengan demikian, menurut pendapat ini, seluruh daging kurban nazar wajib disedekahkan.

Sementara itu, ulama lainnya memperbolehkan memakan daging kurban nazar. Mereka memandang bahwa hukum memakan daging kurban nazar sama seperti memakan daging kurban yang hanya diniatkan dalam hati (tanpa diucapkan secara nazar). Pendapat ini dianggap lebih kuat menurut kaidah fikih (al-afqah), karena kurban nazar pada hakikatnya sama dengan kurban sunnah, hanya saja nazar merupakan janji yang wajib dipenuhi. Hal itu tidak sampai mengakibatkan haramnya memakan daging kurban tersebut.

Pendapat yang memperbolehkan ini merupakan qaul yang kuat (al-madzhab) menurut sebagian ulama. Pendapat ini dipilih oleh Imam al-Haramain al-Juwaini, yang bernama lengkap Abul Ma‘ali ‘Abdul Malik bin Abi Muhammad al-Juwaini (419–478 H), serta Al-Qaffal ash-Shaghir, yaitu Abu Bakar ‘Abdullah bin Ahmad bin ‘Abdullah al-Marwazi (327–417 H).

Adapun ulama yang mengharamkan memakan daging kurban nazar, baik secara hakiki maupun hukmi, di antaranya sebagai berikut:

1. Muhammad asy-Syarbini

Dalam kitab Al-Iqna’, juz 2 halaman 281:

(وَلَا يَأْكُلُ مِنَ الْأُضْحِيَّةِ الْمَنْذُورَةِ) وَالْهَدْيِ الْمَنْذُورِ كَدَمِ الْجَبْرَانَاتِ فِي الْحَجِّ (شَيْئًا) أَيْ يَحْرُمُ عَلَيْهِ ذٰلِكَ، فَإِنْ أَكَلَ مِنْهُ غَرِمَهُ.

2. Zainuddin al-Malibari dan Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi

Dalam kitab Fathul Mu‘in dan I‘anatut Thalibin, juz 2 halaman 333:

(قَوْلُهُ وَيَحْرُمُ الْأَكْلُ الْخ) أَيْ يَحْرُمُ أَكْلُ الْمُضَحِّي وَالْمُهْدِي مِنْ ذٰلِكَ، فَيَجِبُ عَلَيْهِ التَّصَدُّقُ بِجَمِيعِهَا حَتَّى قَرْنِهَا حَقِيقَةً، كَمَا لَوْ قَالَ: لِلّٰهِ عَلَيَّ أَنْ أُضَحِّيَ بِهٰذِهِ، فَهٰذِهِ مُعَيَّنَةٌ بِالنَّذْرِ ابْتِدَاءً، وَكَذَا لَوْ قَالَ: لِلّٰهِ عَلَيَّ أُضْحِيَّةٌ ثُمَّ عَيَّنَهَا بَعْدَ ذٰلِكَ، فَهٰذِهِ مُعَيَّنَةٌ عَمَّا فِي الذِّمَّةِ، أَوْ حُكْمًا، كَمَا لَوْ قَالَ: هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ أَوْ جَعَلْتُ هٰذِهِ أُضْحِيَّةً، فَهٰذِهِ وَاجِبَةٌ بِالْجَعْلِ، لٰكِنَّهَا فِي حُكْمِ الْمَنْذُورَةِ.

(قَوْلُهُ وَيَجِبُ التَّصَدُّقُ الْخ) أَيْ فَيَحْرُمُ عَلَيْهِ أَكْلُ جَمِيعِهَا، لِقَوْلِهِ تَعَالَى فِي هَدْيِ التَّطَوُّعِ، وَأُضْحِيَّةُ التَّطَوُّعِ مِثْلُهُ: ﴿فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ﴾ أَيْ السَّائِلَ وَالْمُعْتَرَّ أَيْ الْمُعْتَرِضَ لِلسُّؤَالِ.

3. Ibrahim al-Bajuri

Dalam kitab Hasyiyah al-Bajuri, juz 2 halaman 300:

(قَوْلُهُ وَلَا يَأْكُلُ) أَيْ لَا يَجُوزُ لَهُ الْأَكْلُ، فَإِنْ أَكَلَ شَيْئًا غَرِمَهُ، وَقَوْلُهُ الْمُضَحِّي وَكَذَا مَنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُ الْخ...

Sementara itu, realitas yang dihadapi panitia kurban di lapangan saat membagikan daging kurban sangatlah sulit. Panitia sering kali tidak dapat memastikan secara rinci daging dari setiap hewan kurban milik masing-masing peserta agar tidak kembali kepada pemiliknya melalui sistem pembagian silang, terlebih jika jumlah hewan kurban sangat banyak.

Oleh karena itu, apabila tetap berpegang pada qaul yang mengharamkan memakan daging kurban nazar, maka penerapannya sangat sulit dilakukan. Di sisi lain, praktik nazar sendiri juga sulit dihindari. Akibatnya, persoalan ini akan terus menjadi problem yang berulang setiap musim kurban, kecuali apabila hewan kurban disembelih dan dibagikan langsung oleh pemiliknya sendiri (mudhahhi).

Karena itu, sebagian ulama memilih solusi dengan mengikuti pendapat yang memperbolehkan memakan daging kurban nazar.

Referensi

Nihayatul Mathlab, juz 12 halaman 201

وَالضَّحِيَّةُ الْمَنْذُورَةُ إِذَا أَدَّاهَا النَّاذِرُ بِالنِّيَّةِ، فَفِي جَوَازِ الْأَكْلِ مِنْهَا وَجْهَانِ: أَحَدُهُمَا الْمَنْعُ، مِنْ جِهَةِ أَنَّهَا مُلْتَزَمَةٌ فِي الذِّمَّةِ، فَشَابَهَتْ دِمَاءَ الْجَبْرَانَاتِ، وَالثَّانِي أَنَّ الْأَكْلَ مِنْهَا كَالْأَكْلِ مِنَ الضَّحِيَّةِ الْمَنْوِيَّةِ، وَهٰذَا هُوَ الْأَفْقَهُ، فَإِنَّهُ نَذَرَ الضَّحِيَّةَ، وَالضَّحِيَّةُ يَجُوزُ الْأَكْلُ مِنْهَا، فَلَا تَتَمَيَّزُ الْمَنْذُورَةُ عَنِ الْمُتَطَوَّعِ بِهَا إِلَّا مِنْ جِهَةِ أَنَّ الْإِقْدَامَ عَلَى الْوَفَاءِ بِالنَّذْرِ وَاجِبٌ، وَلَا يَجِبُ ذٰلِكَ دُونَهَا.

Al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzdzab, juz 8 halaman 308

فَإِنْ كَانَ الْمُلْتَزَمُ مُعَيَّنًا بِأَنْ قَالَ: لِلّٰهِ عَلَيَّ أَنْ أُضَحِّيَ بِهٰذِهِ أَوْ أُهْدِيَ هٰذِهِ، فَفِي جَوَازِ الْأَكْلِ مِنْهَا قَوْلَانِ، وَوَجْهَانِ أَوْ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ، أَصَحُّهَا: لَا يَجُوزُ الْأَكْلُ مِنَ الْهَدْيِ وَلَا الْأُضْحِيَّةِ، وَالثَّانِي يَجُوزُ، وَالثَّالِثُ يَجُوزُ مِنَ الْأُضْحِيَّةِ دُونَ الْهَدْيِ.

إِلَى أَنْ قَالَ: قَالَ الرَّافِعِيُّ: هٰكَذَا فَصَّلَ حُكْمَ الْأَكْلِ مِنَ الْمُلْتَزَمِ كَثِيرُونَ مِنَ الْمُعْتَبَرِينَ، وَهُوَ الْمَذْهَبُ، وَأَطْلَقَ جَمَاعَةٌ فِي جَوَازِ الْأَكْلِ وَجْهَيْنِ، وَلَمْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ نَذْرِ الْمُجَازَاةِ وَغَيْرِهِ، وَهُوَ الْمَذْهَبُ، وَاخْتَارَ الْقَفَّالُ وَالْإِمَامُ الْجَوَازَ.

© Copyright 2022 - NU KBB Online