Nuzulul Qur'an, antara Kemuliaan Syariat, Kemenangan Badar, dan Turunnya Wahyu ke Baitul Izzah

Breaking News

Nuzulul Qur'an, antara Kemuliaan Syariat, Kemenangan Badar, dan Turunnya Wahyu ke Baitul Izzah

 


Oleh: Muhammad Luthfi Shalahuddin, LTN MWC NU Cikalongwetan 

Ramadhan bukan sekadar bulan istimewa bagi umat Islam. Pada bulan tersebut, Allah menurunkan Al-Qur'an ke alam dunia sebagai kompas kebenaran. Namun, di balik kemuliaannya, muncul tanda tanya di tengah umat mengenai kapan tepatnya Al-Qur'an pertama kali menyentuh alam dunia. Apakah ia turun sekaligus pada malam Lailatul Qadar, atau pada tanggal 17 Ramadhan sebagaimana yang lazim kita peringati sebagai Nuzulul Qur'an? Lalu apa saja hikmahnya? Memahami kronologi ini bukan hanya memperkaya wawasan sejarah, tetapi juga memperkuat apresiasi kita terhadap proses turunnya hidayah secara sempurna.

Dalam tafsirnya, Ibnu Athiyyah mengutip pendapat Ad-Dhahhak mengenai makna turunnya Al-Qur'an. Menurutnya, Al-Qur'an diturunkan dalam bentuk penegasan kewajiban, pengagungan, dan anjuran untuk mengamalkannya. Artinya, perintah-perintah dalam Al-Qur'an mulai ditetapkan keutamaannya pada bulan Ramadhan. Penyandingan Al-Qur'an dengan bulan Ramadhan merupakan bentuk penghormatan Allah terhadap kitab suci tersebut. Selain itu, peristiwa ini menjadi dorongan bagi umat agar lebih giat membaca, memahami, dan mengamalkannya.

Selain pendapat tersebut, Ibnu Athiyyah juga mengutip pandangan bahwa yang dimaksud dengan "turunnya Al-Qur'an" adalah permulaan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW yang memang terjadi pada bulan Ramadhan. Dalam Tafsir Al-Munir, Syekh Wahbah az-Zuhaili menyebutkan salah satu pendapat mengenai kapan tepatnya peristiwa itu terjadi, yakni pendapat yang dikuatkan (tarjih) oleh Ibnu Ishaq. Pendapat ini bersumber dari Surah Al-Anfal ayat 41:

اِنْ كُنْتُمْ اٰمَنْتُمْ بِاللّٰهِ وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ 

"...Jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Nabi Muhammad) pada hari al-furqan (pembeda), yaitu pada hari bertemunya dua pasukan..."

Dua pasukan yang dimaksud adalah pasukan muslimin dan pasukan musyrikin yang bertemu dalam Perang Badar pada tanggal 17 Ramadhan. Oleh karena itu, tanggal ini diperingati sebagai momen turunnya ayat yang membedakan antara yang hak dan yang batil.

Lebih lanjut, terdapat penjelasan dari Ibnu Abbas bahwasanya Al-Qur'an diturunkan ke Sama' ad-Dunya (langit dunia) atau yang dikenal dengan Baitul Izzah, secara utuh pada malam tanggal 24 Ramadhan. Hal ini sejalan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Watsilah bin Al-Asqa’, di mana Rasulullah SAW bersabda:

نزلت صحف إبراهيم أول ليلة من  شهر رمضان والتوراة لست مضين منه والإنجيل لثلاث عشرة والقرآن لأربع وعشرين

"Suhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan, Taurat diturunkan pada malam keenam Ramadhan, Injil diturunkan pada tanggal tiga belas Ramadhan, dan Al-Qur'an diturunkan pada malam kedua puluh empat Ramadhan."

Berdasarkan riwayat ini, Al-Qur'an turun sekaligus ke langit dunia pada malam ke-24, barulah setelah itu Malaikat Jibril menyampaikannya kepada Nabi Muhammad SAW secara bertahap selama 23 tahun.

Sebagai kesimpulan, kita dapat memahami bahwa perbedaan penentuan tanggal Nuzulul Qur'an bukanlah sebuah pertentangan, melainkan refleksi dari kedalaman makna Al-Qur'an itu sendiri. Pendapat Ad-Dhahhak memberikan pengertian bahwa Ramadhan adalah momentum pengagungan syariat, pendapat Ibnu Ishaq mengenalkan sisi perjuangan umat Islam pada masa tersebut, sementara riwayat Ibnu Abbas dan Watsilah bin Al-Asqa' memberikan tinjauan historis mengenai proses sistematis turunnya wahyu, mulai dari Lauhul Mahfuz, menuju Baitul Izzah, hingga akhirnya menyentuh alam dunia untuk menerangi hati manusia.

Ketiga pendapat ini sejatinya saling melengkapi satu sama lain. Al-Qur'an diturunkan secara utuh untuk memuliakan langit Dunia, dimulai prosesi turunnya ke bumi untuk mengawali perjuangan risalah, dan ditegaskan tujuannya sebagai kompas syariat bagi setiap jiwa yang mengimaninya. Dengan demikian, perbedaan pendapat tersebut membuktikan betapa megahnya proses turunnya Al-Qur'an yang kehadirannya tidak hanya mengubah sejarah manusia, tetapi juga menetapkan standar nilai yang abadi bagi seluruh alam.

والله اعلم

_________________

Referensi:

تفسير ابن عطية

تفسير المنير - الزحيلى

© Copyright 2022 - NU KBB Online