Oleh:
Farid Hamdani, Lc.
Nahdliyin Bandung Barat
Menjadi warga Nahdlatul Ulama (NU) hari ini bukan sekadar identitas kultural atau pilihan organisasi. Di tengah arus globalisasi, disrupsi digital, dan pertarungan ideologi lintas negara, ber-NU justru merupakan sikap ideologis dan kultural yang menentukan arah masa depan Islam Indonesia. NU tidak hanya mewarisi tradisi, tetapi juga memikul tanggung jawab sejarah untuk menjaga Islam tetap berwajah ramah, beradab, dan relevan dengan zaman.
Globalisasi memang membawa banyak
kemudahan, tetapi juga tantangan serius bagi umat Islam. Informasi keagamaan
kini tidak lagi bersumber utama dari kiai dan pesantren, melainkan dari
algoritma media sosial. Siapa pun dapat berbicara atas nama Islam, meskipun
tanpa sanad keilmuan dan adab. Dalam situasi seperti ini, warga NU memegang
peran penting sebagai penjaga otoritas keagamaan yang berakar pada tradisi
keilmuan yang sahih dan bertanggung jawab.
Tradisi NU bukan sekadar ritual, melainkan
sistem nilai. Tahlilan, maulidan, ziarah, dan pengajian kitab kuning bukanlah
praktik nostalgia, melainkan sarana membangun kesinambungan spiritual dan
sosial. Di balik amalan-amalan itu tersimpan ajaran tentang tawadhu’, cinta
kepada Nabi, dan penghormatan kepada ulama. Inilah modal sosial yang membuat
Islam ala NU tidak mudah terjebak pada puritanisme dan kekerasan simbolik.
Namun, menjadi warga NU juga berarti
bersedia bergerak maju. NU tidak boleh terjebak dalam romantisme masa lalu.
Prinsip al-muhafazhah ‘ala al-qadîm al-shâlih wa al-akhdzu bi al-jadîd
al-ashlah mengajarkan bahwa tradisi dan inovasi harus berjalan beriringan. Di
era digital, warga NU dituntut hadir di ruang publik baru: media sosial,
platform pendidikan daring, dan ekonomi kreatif. Jika NU absen di sana, ruang
itu akan diisi oleh narasi keagamaan yang sempit dan provokatif.
Lebih jauh, warga NU juga memikul tanggung
jawab keumatan dan kebangsaan. Sejak awal berdiri, NU tidak hanya memikirkan
keselamatan individu, tetapi juga kemaslahatan sosial. Komitmen NU terhadap
NKRI, Pancasila, dan kebhinekaan bukanlah sikap politis sesaat, melainkan hasil
ijtihad kebangsaan para ulama. Menjadi warga NU berarti ikut merawat Indonesia
sebagai ruang hidup bersama yang harus dijaga dari konflik sektarian dan
ideologi transnasional yang memecah belah.
Dalam konteks global, wajah Islam yang
ditampilkan NU memiliki arti strategis. Dunia yang lelah oleh terorisme dan
radikalisme membutuhkan contoh Islam yang damai, rasional, dan spiritual. Warga
NU, dengan tradisi pesantren dan akhlak wasathiyah-nya, sejatinya sedang
membawa misi peradaban: membuktikan bahwa Islam dan kemanusiaan tidak pernah
bertentangan.
Karena itu, ber-NU di era global bukan
hanya soal mengikuti organisasi, melainkan soal mengambil posisi moral dan
intelektual. Ia adalah pilihan untuk berdiri di pihak Islam yang mempersatukan,
bukan memecah; mencerahkan, bukan menghasut; membangun, bukan meruntuhkan.
