Penulis: Muhammad Luthfi Shalahuddin
Dalam sebuah hadis qudsi, Baginda Nabi ﷺ menyampaikan sabda Allah 'Azza wa Jalla:
كل عمل ابن آدم يضاعف، الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف إلا الصيام فإنه لي وأنا أجزي به.
"Setiap amal anak Adam akan dilipatgandakan; satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat. Kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya."
Berbeda dengan shalat yang memiliki artikulasi gerak atau zakat yang mewujud dalam angka, puasa justru hadir melalui "peniadaan". Ia adalah ibadah yang tidak nampak, sebuah laku sunyi untuk tidak makan, tidak minum, dan tidak menuruti damba. Disinilah letak keunikannya. Puasa adalah ruang privat yang kedap dari pandangan manusia, sebuah rahasia suci antara sang hamba dengan Khaliknya.
Pada titik ini, kejujuran spiritualitas kita sedang dipertaruhkan. Disaat tak ada mata manusia yang mengawasi, namun kita tetap memilih patuh, disitulah dialektika antara ego manusia dan kehendak Tuhan dimulai.
Puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan sebuah dialog bathin tentang siapa yang sesungguhnya menjadi tuan atas diri kita, keinginan jasmani yang fana, ataukah cinta kepada Sang Maha Pencipta.
Jika amal ibadah lain memiliki takaran pahala yang terukur dalam deret angka -sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat-, maka puasa melangkah jauh melampaui hitungan tersebut. Ia memasuki wilayah unlimited, sebuah ruang spiritual dimana kalkulasi manusia tak lagi mampu menjangkaunya.
Mengapa ia menjadi tak bertepi?
Menurut Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, rahasia dibalik kekhususan ini terletak pada satu akar, yakni: Sabar. Puasa adalah perwujudan murni dari kesabaran yang utuh. Dan dalam tatanan ketuhanan, sabar adalah satu-satunya kualitas yang dijanjikan Allah dengan ganjaran bighairi hisab, sebuah balasan yang meluap tanpa hitungan, tanpa sekat, dan tanpa batas.
Di sini, puasa bukan lagi sekadar transaksi ketaatan demi pahala, melainkan sebuah penyerahan total yang mempertemukan ketabahan hamba dengan kemurahan Sang Maha Tak Terbatas.
Atas dasar itulah, Rasulullah menjuluki Ramadhan sebagai 'Bulan Kesabaran'. Maka, menjalankan puasa sejatinya adalah melatih diri untuk menyandingkan ritme ibadah dengan keteguhan sabar.
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali mengkategorikan sabar menjadi tiga jenis sebagaimana tercantum dalam karyanya Latha-iful ma'arif:
والصبر ثلاثة أنواع : صبر على طاعة الله، وصبر عن محارم الله، وصبر على أقدار الله المؤلمة. وتجتمع الثلاثة كلها
"Sabar terbagi menjadi 3 wajah: Sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah, dan sabar terhadap takdir yang telah diberikan"
Lanjutnya, dari ketiga jenis sabar ini terkandung dalam ibadah puasa. Sebab didalamnya terkandung kesabaran dalam menunaikan taat kepada Allah azza wa jalla, kesabaran dalam menjauhi hal-hal yang dilarang oleh-Nya, serta kesabaran atas apa yang dialami oleh orang yang berpuasa berupa perihnya rasa lapar, dahaga, hingga melemahnya jiwa dan raga.
Kontributor: LTN MWCNU Cikalongwetan.
Referensi:
ارشاد الساري لشرح صحيح البخاري ج ٨ ص ٢٤٧
لطائف المعارف لاب رجب ص ٢٨٤
